Home / Para Pendekar di Sudut-Sudut Gelap Kota
Antonius Badar dan Muhammad Afif, dua pengacara publik LBH Masyarakat, tengah bersenda gurau di sela-sela kesibukan mereka menyusun pledoi untuk membela yang lemah dan tertindas.

Para Pendekar di Sudut-Sudut Gelap Kota

“Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa…Pengadilan Negeri… telah menjatuhkan Putusan sebagai berikut…Mengadili…menyatakan bahwa terdakwa secara sah dan meyakinkan terbukti bersalah… menjatuhkan hukuman… penjara.”

Melakukan pekerjaan-pekerjaan hukum di ibukota secara umum menjanjikan beberapa hal yang menyenangkan: uang, jabatan, atau, setidak-tidaknya, ketenaran. Jakarta adalah pusat pemerintahan dan juga pusat ekonomi. Bayangkan betapa banyak kepentingan yang berseliweran di ruas-ruas jalannya.  Bayangkan apa yang orang rela lakukan demi mengecap sedikit kejayaan. Hukum, kemudian, dapat menjadi alat yang sempurna untuk meraih banyak hal. Dari sana, para pekerja hukum, sebagai prajurit-prajurit kepentingan, berargumen, berdebat, bersidang, melakukan apa pun yang diperlukan untuk memenangkan pertandingan.

Di luar riuhnya semua janji-janji Jakarta, ada beberapa insan yang tak memperdulikan semua itu dan memberikan waktu dan ilmunya bagi kepentingan yang tak mampu memberinya uang, jabatan, dan ketenaran. Insan-insan yang menemukan dirinya dalam pengabdian. Insan-insan yang memperoleh kesadaran bahwa ada yang lebih indah daripada gemerlapnya ibukota.

Kepentingan-kepentingan yang mereka perjuangkan tidak selaras dengan yang masyarakat percaya sebagai sesuatu yang pantas diperjuangkan. Kepentingan-kepentingan yang mereka perjuangkan bahkan, dalam taraf tertentu, diperangi oleh negara.

Pun demikian, mereka tak gentar. Walau masih jauh di ujung jalan, mereka tidak mundur teratur melainkan maju bertarung. Meski sulit, mereka meyakinkan diri bahwa perubahan, bagaimana pun bentuknya, akan, terus, dan pasti terjadi. Mereka tepis anggapan utopis, terus optimis meski dipandang sinis.

Mereka adalah pendekar. Seorang sakti yang memberi dirinya untuk masyarakat. Para pendekar ini hadir di sudut-sudut gelap ibukota. Mereka hadir untuk orang-orang yang mengklaim otonomi atas tubuh sendiri dan diancam dimasukan ke dalam penjara atas nama Undang-Undang Narkotika. Mereka hadir untuk orang-orang yang dibedakan oleh masyarakat karena identitas dan orientasi seksual yang berbeda. Mereka hadir bagi mereka yang berusaha membeli nasi esok hari lewat tubuh. Mereka hadir bagi mereka yang diancam dibunuh atas nama efek jera dan keadilan. Mereka hadir bagi mereka yang tak memiliki sumber daya untuk membela diri sendiri. Mereka hadir.

Mereka hadir untuk melawan. Melawan sistem peradilan yang korup luar biasa. Melawan narasi umum di tengah masyarakat. Melawan nafsu-nafsu pribadi. Melawan cemooh orang-orang terdekat.

Kemanusiaan harus bersorak karena ia tetap nyata berkat hadirnya para pendekar ini. Mereka yang terus bekerja tanpa diiringi sorot kamera televisi dan tanpa dikejar-kejar kuli tinta. Mereka yang, setelah seharian jungkir balik dari Polsek sampai Mahkamah Agung, bersenda gurau di depan kantor, menikmati hidup yang getir lewat secangkir kopi di ujung bibir, serta menghembuskan segala kelelahan lewat tembakau.

Mereka mungkin bukan pendekar dengan pedang yang paling tajam. Mereka mungkin bukan pendekar dengan wajah paling tampan. Mereka tidak sempurna. Tapi hati mereka luar biasa lebar dan oleh karenanya ada baiknya kita berkata:

Terima kasih.

 

Ditulis oleh: Yohan David Misero

About Admin Web

Check Also

Lasagna: Pemaknaan Hidup, Perayaan Kematian

Orang bilang panjangnya umur tidak ada yang tahu, tapi bagaimana bila kematianmu bukan lagi sebuah …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *