“Aku tidak peduli
dengan perempuan ini”. “Bagaimana dengan ibumu?” “Tentu aku sangat
mencintainya”. Menjadi adil memang sulit.
Semasa kecil aku suka bertanya-tanya: kenapa kalau ibu yang sakit,
rumah tampak berantakan sekali. Tumpukan baju dan piring yang tidak dicuci,
lantai yang kotor, hingga tidak ada makanan yang siap disantap. Suatu waktu,
untuk mengobati rasa penasaran, aku bertanya pada seorang teman, “Kalau ayahmu
yang sakit kondisi rumahmu juga begitu?” Dia menggeleng.
Kemudian dia bilang, peran ibu sangat penting, makanya kalau
ibu sakit pasti terasa. Jawaban ini sedikit melegakan, meski aku tidak
benar-benar tahu apa peran ibu sebenarnya. Bahkan aku sama sekali tidak pernah
menyoalkan kenapa ibu bangun lebih pagi daripada anggota keluarga yang lain.
Bagiku semata-mata inisiatif dan kerelaan ibu yang membuatnya membiasakan diri untuk
bangun lebih awal.
Di umurku yang 13 tahun itu, aku masih belum paham kalau ibu
adalah pemilik beban terbanyak di rumah. Tanggung jawab ibu yang ganda, di luar
dan dalam rumah, sama sekali tidak pernah kulihat sebagai hal yang berat. Juga
ketika ibu memutuskan untuk fokus urusan domestik, aku tidak menganggap
pekerjaan ibu sama bobotnya dengan yang ayah lakukan.
Belum lagi para perempuan yang bekerja karena himpitan
ekonomi. Aku tidak bisa membayangkan, para perempuan yang bekerja seharian,
tidak mendapat upah yang sepadan dengan teman kerja laki-lakinya. Sementara, sudah
tidak lagi punya suami dan harus menanggung kebutuhan anak-anaknya. Ah,
membicarakan ini mengingatkanku pada seorang teman yang ibunya single parent.
Waktu itu sekitar 2012 temanku ini sakit di sekolah, ibunya
datang menjemput dengan sepeda motor. Kepalang bannya kempes dan berjarak
sekitar 4 km untuk menemukan tukang tambal. Adik bungsunya yang datang bersama
diminta tetap duduk di atas sepeda motor, sementara dia diminta jalan sambil
berpegangan.
Sekali waktu aku datang berkunjung ke rumahnya, dia cerita
kalau adiknya beberapa hari lalu menangis, minta sepatu mahal bergambar Frozen yang lagi marak. Kendati tak ada anggaran lebih untuk pengeluaran
di bulan itu, ibunya tetap membelikannya. “Ibu mau anak-anak ibu bahagia dan
merasa tercukupi, seperti teman-temannya yang punya orang tua lengkap”, ucapnya
menirukan kalimat ibunya. Aku hanya bisa terdiam tanpa kata mendengarnya.
Dari kejadian ini, aku bertambah respect terhadap kaumku sendiri. Namun aku belum bisa membawa
‘pisau’ ini untuk melihat keadaan seluruh perempuan. Ya, aku harus mengakui
ini. Beberapa waktu lalu, aku sempat ogah-ogahan ketika diminta untuk menangani
kasus perempuan yang terlibat tindak pidana narkotika. “Dia memang mau menjual
narkotika. Bagian mana yang harus kubela”, gumamku saat itu.
Aku seakan tak mau tahu, faktor dan latar belakang yang
mendorongnya berbuat pidana. Untungnya meski tidak terlalu semangat, aku tetap
datang berkunjung ke rumah tahanan dan memintanya bercerita. Sungguh tidak
sesederhana yang aku pikirkan. Pendidikan dan kemampuan finansial yang rendah,
korban kekerasan seksual, tidak merasa aman di rumah, adalah bagian-bagian penting
yang jarang diperhitungkan. Beban gender yang berlapis berkelindan dengan pagannya
kultur patriarki seolah menenggelamkan harapan akan keadilan baginya.
Majelis hakimnya yang didominasi oleh perempuan, tidak
menjamin untuk sensitif terhadap persoalan perempuan. Alih-alih
mempertimbangkan hal di luar tindak pidananya, malah sibuk memberi cap untuk
perbuatannya. Sesekali aku putus asa dan tidak jarang merasa sia-sia. Sulit
memang mengajak seseorang untuk melihat penderitaan orang lain, apalagi ketika
ia sudah mendapat ‘surga’ dari lahir atau akses apapun yang istimewa.
Namun ada sedikit kabar baik, setidaknya menjadi obat, ada
teman yang juga mau bersama-sama berjuang di jalan ini. Dan teman berjuangku
bukan hanya satu orang. Desember 2019 lalu untuk pertama kalinya di Indonesia,
bahkan di Asia Pasifik, para perempuan berkumpul, membicarakan perempuan dan
kerentanannya terjerat tindak pidana yang terancam hukuman mati. Kami juga
bersepakat menyalakan harapan. Tidak pernah sebangga ini aku menjadi perempuan.
Bersama Death Penalty Worldwide di Cornell University dan
Harm Reduction International, LBH Masyarakat mengorganisir pertemuan tersebut.
Di sana aku belajar soal kerentanan perempuan yang selalu menjadi sasaran
sindikat kejahatan. Di antaranya trauma kekerasan rumah tangga masa lalu,
besarnya tanggungan keluarga, pengaruh dan iming-iming pasangan, dan bekerja
jauh ke negara asing tanpa bekal pengetahuan, bahasa yang mencukupi maupun
pertemanan.
Sedihnya, derita para perempuan itu tak terhenti di sini. Kondisi penjara juga tidak memihak pada mereka. Seperti kunjungan keluarga yang terbatas, akses kesehatan yang jauh dari memadai, pemenuhan kebutuhan dasar yang minim, keterisolasian dalam penjara yang berdampak pada kesehatan jiwa, reniknya ruang privasi,belum lagi tindak pidana terancam hukuman mati menciptakan stigma dan bebannya sendiri.
Menjadi perempuan memang penuh dengan kerentanan, mudah
mendapat cap buruk, dan kerap dinomorduakan. Sebab, lingkungan ini memang tidak
banyak memihak perempuan: melanggengkan batas, mempersempit gerak, dan
membungkam suara. Namun menjadi perempuan bukanlah sesuatu yang perlu disesali.
Semoga kegelisahanku, bisa menjadi kegelisahanmu, dan itu menjadi milik bersama. Semoga suara-suara perempuan terus terdengar dan bermunculan. Keadilan mereka yang terenggut, bisa terpenuhi. Ruang yang setara, bisa diciptakan. Juga bisa mengajak orang lain untuk peka dan peduli isu-isu perempuan lebih banyak lagi, terutama mereka yang berhadapan dengan regu penembak.
Penulis: Aisya Humaida
Editor: Ricky Gunawan